Pages

Rabu, 11 November 2015

Makalah Peranan Guru dalam Layanan Bimbingan Konseling



PERANAN GURU DALAM LAYANAN
BIMBINGAN KONSELING
BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
                 Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatar belakangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis.
                 Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
                 Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan. Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.
B.       RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut, dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang berkaitan dengan Layanan Bimbingan Konseling di SD, antara lain :
1.   Bagaimana kebutuhan dasar Bimbingan Konseling di SD?
2.  Bagaimana peran guru kelas dalam pelayanan Bimbingan Konseling di SD?
3.  Apa yang menjadi masalah Layanan Bimbingan Konseling di SD?
C.      TUJUAN PEMBAHASAN
Dari latar belakang tersebut, dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang berkaitan dengan Layanan Bimbingan Konseling di SD, antara lain :
1.   Mengetahui bagaimana kebutuhan dasar Bimbingan Konseling di SD?
2.  Mengetahui peran guru kelas dalam pelayanan Bimbingan Konseling di SD?
3.  Mengetahui masalah Layanan Bimbingan Konseling di SD?



BAB II
PEMBAHASAN

A.      KEBUTUHAN DASAR BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR
Siswa perlu dibantu untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, baik masalah yang dihadapi sekarang maupun masalah yang mungkin timbul pada masa yang akan datang. Dalam hal ini, bimbingan dan konseling dapat memainkan peranan yang amat penting. Sejalan dengan sebab-sebab terjadinya masalah, maka kebutuhan bimbingan dan konseling di sekolah dasar bertolak dari upaya-upaya berikut ini.
1.    Membantu murid  mewujudkan tugas-tugas perkembangannya.
Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang timbul pada suatu masa tertentu dalam kehidupan seseorang. Keberhasilan seseorang individu menunaikan tugas-tugas perkembangannya secara baik akan memungkinkan individu itu memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya, dan akan mempermudah dirinya melaksanakan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
2.    Membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar siswa.
Kebutuhan-kebutuhan yang terpenuhi itu akan dapat mendatangkan kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan. Bagi siswa-siswa di sekolah, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu akan memungkinkan dapat mencapai perkembangan secara optimal. Tugas bimbingan dan konseling yang penting dalam hal ini adalah membantu agar anak didik dapat memperoleh kemudahan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
3.    Mengatasi pengaruh kondisi rumah tangga yang kurang menguntungkan.
Anak-anak yang memasuki sekolah dasar berasal dari berbagai latar belakang rumah tangga yang berbeda. Kondisi rumah tangga yang dimikian itu banyak sedikitnya akan mempengaruhi perkembangan anak.
4.    Mengatasi pengaruh kondisi sekolah yang tidak sehat.
Sekolah tidak selalu menjadi tempat yang menyenangkan bagi setiap siswa. Ada kalanya sekolah justru menjadi sumber masalah pada diri siswa. Di antara kondisi-kondisi sekolah yang dapat menjadi sumber masalah pada diri siswa diantaranya adalah kurikulum yang tidak sesuai, persaingan yang tidak sehat sesama murid, guru kurang memahami perbedaan-perbedaan individu murid, pelaksanaan administrasi sekolah yang tidak teratur, dan kepribadian guru serta cara-cara pengelolaan kelas yang kurang mantap.

B.       PERAN GURU KELAS DALAM PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING SD
Implementasi kegiatan Bimbingan Konseling dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas (bagi sekolah tanpa guru bimbingan) dalam pelaksanaan kegiatan Bimbingan Konseling sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Menurut Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan Bimbingan Konseling, yaitu:
1.      Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
2.      Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
3.      Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
4.      Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5.      Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
6.      Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
7.      Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
8.      Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9.      Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

C.      MASALAH PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING DI SD
Bimbingan Konseling diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal. merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal :
·      Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis).
·      Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak.
·      Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
·      Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup.
Empat peran di atas dapat efektif, jika Bimbingan Konseling didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah.
Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib. Siswa, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan Bimbingan Konseling optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan hukum-menghukum.
Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah dasar lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Betapa ketimpangan ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.
Bimbingan Konseling dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privasinya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.
Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru BK. Adanya kekhawatiran bahwa konselor akan memakan “gaji buta”. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas mengajar keterampilan, sejarah, menjaga kantin, mengurus perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam penanganannya.
Bimbingan Konseling yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu (baca: mau) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai, ruang Bimbingan Konseling sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa mendesak untuk dikedepankan peran Bimbingan Konseling dengan mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada Bimbingan Konseling dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah menengah dan semua pihak yang terlibat didalam proses kependidikan.








BAB IV
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Kebutuhan dasar Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar antara lain :
·      Membantu murid mewujudkan tugas-tugas perkembangannya.
·      Membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar siswa.
·      Mengatasi pengaruh kondisi rumah tangga yang kurang menguntungkan.
·      Mengatasi pengaruh kondisi sekolah yang tidak sehat.
2.    Peran guru kelas dalam pelayanan Bimbingan Konseling di SD antara lain sebagai Informator, Organisator, Motivator, Director, Inisiator, Transmitter, Fasilitator, Mediator dan Evaluator.
3.    Masalah yang ada pada pelayanan Bimbingan Konseling di SD meliputi berbagai aspek, diantaranya :
·      Aspek tempat dan kenyamanan
Tempat dan kenyamanan ruangan konseling seringkali tidak diperhatikan.
·      Aspek administrasi
Seringkali guru konsultasi dianggap melakukan gaji buta.
·      Aspek persepsi anak-anak
Persepsi anak-anak terhadap layanan Bimbingan dan Konseling seringkali menganggap bahwa yang dilayani adalah anak-anak yang bermasalah dalam artian nakal.


B.       SARAN
Dari pembahasan makalah ini, dapat disarankan :
1.    Sebaiknya layanan Bimbingan Konseling diberikan kepada anak-anak sejak dini.
2.    Memberikan tempat yang layak untuk melakukan layanan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar.
3.    Memberikan layanan Bimbingan Konseling sesuai dengan jenjang pendidikan pada Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA

Awalya dkk. Bimbingan & Konseling. 2013. Semarang : Unnes Press

Afni, Nur. Peran Guru dalam Bimbingan Konseling. 2009. https://afhny.wordpress.com/peran-guru-dalam-bimbingan-konseling/ diakses pada : 4 September 2015. 05.22 WIB.

Defila, Februl dkk. Peranan Guru dalam Bimbingan Konseling di Sekolah. 2012. https://febroeldefila.files.wordpress.com/2012/04/peranan-guru-dalam-bimbingan-konseling-sekolah.pdf diakses pada 4 September 2015. 05.22 WIB.

Dewi, Kristin Shinta dkk. Makalah Peranan Guru dalam Bimbingan Konseling. 2015.  http://jihyukhome.blogspot.com/2015/03/makalah-peran-guru-dalam-bimbingan.html diakses pada 4 September 2015 05.22 WIB

Zaqiyah, Irmawati. Tiada Celah Berbahasa Indonesia. 2015. http://irmazaqiya.blogspot.com/2015/01/peran-guru-mapel-terkait-dengan-program.html diakses pada 4 September 2015 05.22 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar