Kamis, 09 Juni 2016 0 komentar

Refleksi Pembelajaran dan Identifikasi Kesulitan Belajar



BAB XI
REFLEKSI PEMBELAJARAN DAN IDENTIFIKASI KESULITAN BELAJAR

A.    SUB POKOK BAHASAN
1.      Konsep dan fungsi refleksi pembelajaran
2.      Pengertian identifikasi kesulitan belajar
3.      Karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar
4.      Teknik identifikasi kesulitan belajar

B.     TUJUAN
1.      Mahasiswa diharuskan dapat menjelaskan pengertian dan fungsi refleksi pembelajaran.
2.      Mahasiswa diharuskan dapat menjelaskan pengertian identifikasi kesulitan belajar.
3.      Mahasiswa diharuskan dapat menganalisis karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar.
4.      Mahasiswa diharuskan dapat menganalisis berbagai teknik identifikasi kesulitan belajar.

C.    PEMBAHASAN
1.         Konsep dan Fungsi Refleksi Pembelajaran
1.1     Konsep Refleksi Pembelajaran
Refleksi adalah suatu tindakan  atau kegiatan untuk mengetahui serta memahami apa yang terjadi sebelumnya, belum terjadi, dihasilkan apa yang belum dihasilkan, atau apa yang belum tuntas dari suatu upaya atau tindakan yang telah dilakukan. (Tahir, 2011: 93). Refleksi merupakan kegiatan mengingat, merenungkan, mencermati, dan menganalisis kembali suatu tindakan yang telah dilakukan dalam suatu  pembelajaran.
Mengemukakan kembali atau melaksanakan lagi apa yang telah dilakukan merupakan kegiatan refleksi. Kegiatan refleksi merupakan kegiatan yang sangat penting untuk dilaksanakan sebab akan mengontrol tindakan guru. Guru dapat melihat apa yang masih perlu diperbaiki, ditingkatkan, atau dipertahankan.
1.2     Fungsi Refleksi Pembelajaran
Fungsi adalah refleksi pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.   Memberikan deskripsi, berupa pemaparan apa yang terjadi, apa yang dilihat, apa yang dialami atau dilakukan selama proses pembelajaran
2.   Rasa dan pikiran, menggambarkan apa yang dirasakan dan terpikirkan sehubungan dengan kegiatan yang dialami selama proses pembelajaran
3.   Evaluasi, sehingga guru dapat memilah dan memilih mana yang baik atau tidak baik, mana yang bermanfaat atau tidak bermanfaat dari pengalaman dalam proses pembelajaran
4.   Analisis, guru dapat mencari apa yang dipahami dari proses belajar mengajar , hingga muncul pertanyaan mengapa terdapat kekurangan dalam proses pembelajaran tersebut padahal persiapan telah dibuat sematang mungkin
5.   Kesimpulan, guru mendapatkan kesimpulan akhir apa yang seharusnya atau sebaiknya dilakukan supaya kekurangan atau kelemahan yang pernah dialami tidak terulang kembali
6.   Rencana ke depan, ketika melaksanakan proses belajar mengajar berikutnya guru dapat melakukan perbaikan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan apa yang akan dilakukan

2.         Pengertian Identifikasi Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar merupakan kesulitan yang dialami oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya (Sunarta:1985).
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1)      Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam siswa sendiri, seperti: rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa, labilnya emosi dan sikap, dan terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
2)      Faktor ektern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Dari lingkungannya dibagi menjadi 3 macam:.
a.       Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b.      Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
c.       Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

3.         Karakteristik Anak yang Mengalami Kesulitan Belajar
Karakteristik yang ditemui pada anak dengan kesulitan belajar, diantaranya:
1)      Sejarah kegagalan akademik berulang kali.
Pola kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang. Tampaknya memantapkan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha.
2)      Hambatan fisik/tubuh atau lingkungan berinteraksi dengan kesulitan belajar.
Adanya kelainan fisik, misalnya penglihatan yang kurang jelas atau pendengaran yang terganggu berkembang menjadi kesulitan belajar yang jauh di luar jangkauan kesulitan fisik awal.
3)      Kelainan motivasional
Kegagalan berulang, penolakan guru dan teman-teman sebaya, tidak adanya penguatan. Semua ini ataupun sendiri-sendiri cenderung merendahkan mutu tindakan, mengurangi minat untuk belajar, dan umumnya merendahkan motivasi atau memindahkan motivasi ke kegiatan lain.
4)      Kecemasan yang samar-samar
Kegagalan yang berulang kali, yang mengembangkan harapan akan gagal dalam bidang akademik dapat menular ke bidang-bidang pengalaman lain. Adanya antisipasi terhadap kegagalan yang segera datang, yang tidak pasti dalam hal apa, menimbulkan kegelisahan, ketidaknyamanan, dan semacam keinginan untuk mengundurkan diri. Misalnya dalam bentuk melamun atau tidak memperhatikan.
5)   Perilaku berubah-ubah, dalam arti tidak konsisten dan tidak terduga.
Rapor hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konstan. Tidak jarang perbedaan angkanya menyolok dibandingkan dengan anak lain. Ini disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran. Ketidakstabilan dan perubahan yang tidak dapat diduga ini lebih merupakan isyarat penting dari rendahnya prestasi itu sendiri.
6)    Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap
Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Misalnya tanpa data yang lengkap seorang anak digolongkan keterbelakangan mental tetapi terlihat perilaku akademiknya tinggi, yang tidak sesuai dengan anak yang keterbelakangan mental.
7)      Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak memadai.
Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan, dan urutan pengalaman belajarnya tidak mendukung proses belajar. Kadang-kadang kesalahan tidak terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri, tetapi pada ketidakcocokan antara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak. Kadang-kadang pengalaman yang didapat dalam keluarga juga tidak mendukung kegiatan belajar.

4.         Teknik Identifikasi Kesulitan Belajar
Identifikasi kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka identifikasi kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Beberapa langkah pokok/prosedur dan teknik pelaksanaan identifikasi kesulitan belajar adalah sebagai berikut:
1)        Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar
Dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan dapat dilakukan dengan cara menandai siswa dalam satu kelas atau dalam suatu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik yang sifatnya umum maupun sifatnya lebih khusus dalam bidang studi tertentu. Teknik yang dapat ditempuh bermacam-macam antara lain dengan:
a.       Meneliti nilai ujian
b.      Menganalisis hasil ujian dengan melihat tipe kesalahan yang dibuatnya.
c.       Observasi pada saat siswa dalam proses belajar mengajar
d.      Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas bimbingan.
e.       Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial psikologis yang terdapat pada para siswa.
2)      Membatasi letak kesulitan (permasalahan)
Setelah menemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka pesoalan selanjutnya yang perlu ditelaah ialah analisis letak kesulitan belajar siswa dengan cara sebagai berikut:
a.       Mendekati kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka nilai prestasi individu siswa untuk semua bidang studi. Untuk membuat jelas hal ini sebaiknya dibuat grafik yang berisi semua mata pelajaran/bidang studi lengkap dengan nilainya. 
b.      Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran dimanakah kesulitan terjadi. Dapat dilakukan dengan menganalisis jawaban siswa terhadap soal-soal setiap mata pelajaran. Dari jawaban itu dapat diketahui pada bagiam mana siswa mendapat kesulitan.
c.       Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Analisis yang dimaksud disini adalah analisis terhadap kemampuan menyelesaikan tugas-tugas, soal-soal saat proses belajar berlangsung, kehadiran atau ketidakhadiran saat proses belajar berlangsungsi untuk setiap mata pelajaran, penyesuaian diri dengan temannya.
3)      Membatasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan siswa mengalami berbagai kesulitan
Untuk membatasi jenis faktor dan sifat yang menyebabkan siswa mengalami berbagai kesulitan dapat dipergunakan berbagai cara dan alat, baik yang dapat dibuat oleh guru, maupun yang telah dikerjakan orang lain yang tersedia disekolah. Cara dan alat itu antara lain: test kecerdasan, test bakat khusus, skala sikap baik yang sudah standar maupun yang secara sederhana bisa dibuat guru, wawancara dengan siswa yang bersangkutan, mengadakan observasi  yang intensif baik dalam maupun di luar kelas, wawancara dengan guru dan wali kelas, dan dengan orang tua atau teman-teman bila dipandang perlu
4)      Perkiraan kemungkinan bantuan
Apabila kita telaah tentang letak kesulitan yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan, latar belakangnya, faktor-faktor yang menyebabkannya, maka kita akan dapat memperkirakan beberapa hal berikut:
a.       Apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak.
b.      Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa tertentu.
c.       Kapan dan dimana pertolongan itu dapat di berikan.
d.      Siapa yang dapat memberikan pertolongan.
e.       Bagaimana cara menolong siswa agar dapat dilaksanakan secara efektif.
f.       Siapa sajakah yang harus dilibatsertakan dalam menolong siswa tersebut.
5)      Penetapan kemungkinan cara mengatasinya
Pada langkah ini perlu menyusun suatu rencana  atau alternatif-alternatif rencana yang akan dilaksanakan untuk membantu peserta didik/siswa mengatasi masalah kesulitan belajarnya. Rencana ini hendaknya berisi: cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami siswa tersebut dan menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang. Selain itu rencana ini harus berisi tentang: jadwal kegiatan pemberian bantuan, cara bantuan diberikan, tempat, petugas yang akan memberikan bantuan, tindak lanjut bantuan.
6)      Tindak Lanjut
Kegiatan tindak lanjut adalah kegiatan melakukan bantuan, bimbingan, arahan atau pengajaran paling tepat dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, cara ini dapat berupa :
a.       Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran remidial pada mata pelajaran yang menjadi masalah bagi siswa tertentu. Remidial dapat dilakukan oleh guru, atau pihak lain yang dianggap dapat menciptakan suasana belajar siswa yang penuh motivasi.
b.      Membagi tugas dan peranan kepada orang-orang tertentu dalam memberikan bantuan pada siswa.
c.       Senantiasa mencek dan ricek kemajuan terhadap siswa yang bermasalah baik pamahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa bahan, maupun mencek bahan tepat guna program remedial yang dilakukan untuk setiap saat diadakan revisi dan improvisasi.
d.      Mentransfer atau mengirim (roferral case) siswa yang menurut perkiraan tidak dapat ditangani oleh guru kepada orang atau lembaga lain (psikologi, psikiater, lembaga bimbingan, lembaga psikoligi dan sebagainya) yang diperkirakan akan lebih dapat dan lebih tepat membantu siswa tersebut.


D.    BAHAN DISKUSI
1.      Jelaskan apakah dengan adanya refleksi dapat membuat pembelajaran selanjutnya dapat menjadi lebih baik dan terarah?
2.      Bagaimanakah sikap guru dalam menghadapi seorang anak yang mengalami kesulitan belajar? Apakah dengan melakukan bimbingan secara khusus?
3.      Tindak lanjut diberikan pada anak yang benar-benar kesulitan dalam belajarnya. Bagaimana tindak lanjut serta arahan atau pengajaran yang paling tepat dalam membantu siswa tersebut?


E.     DAFTAR PUSTAKA
Anwar Aswin. 2015. Refleksi, online (http://konsepblackbook.blogspot.co.id/2013/06/refleksi.html). Diakses pada 05 September 2015.
Hernawati Tati. 2014. BAHAN_PRESENTASI_5, online
Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan. 2015. Refleksi dalam Pendidikan; Apa Arti Pentingnya?, online (http://pip.unpar.ac.id/publikasi/buletin/sancaya-volume-03-nomor-01-edisi-januari-februari-2015/refleksi-dalam-pendidikan-apa-arti-pentingnya/). Diakses pada 05 September 2015.
Zuha Devi. 2013.  Pengertian Kesulitan Belajar Dan Gejala-Gejalanya, online (http://lousieaen.blogspot.co.id/2013/12/pengertian-kesulitan-belajar-dan-gejala.html). Diakses pada 03 September 2015.
0 komentar

Pengembangan Evaluasi Pembelajaran



BAB X
PENGEMBANGAN EVALUASI PEMBELAJARAN
A.      Pengembangan evaluasi pembelajaran
Sub Pokok Bahasan
1.             Konsep evaluasi pembelajaran
2.             Fungsi evaluasi pembelajaran
3.             Jenis dan teknik evaluasi pembelajaran
4.             Alat evaluasi pembelajaran
5.             Authenthik assesemt
B.       Tujuan :
Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa harus dapat :
1.             Menjelaskan konsep evaluasi pembelajaran
2.             Menganalisis fungsi evaluasi pembelajaran
3.             Menganalisis jenis dan teknik evaluasi pembelajaran
4.             Menganalisis alat evaluasi pembelajaran
5.             Menganalisis konsep dan karakteristik assesement
C.      Pembahasan
1.       Konsep evaluasi pembelajaran
Evaluasi merupakan istilah serapan yang berasal dari istilah dalam bahasa inggris yaitu “evaluation”. Evaluation sendiri berasal dari akar kata “value” yang berarti nilai. Selanjutnya dari kata nilai terbentuklah kata “Penilaian” yang dalam perbincangan sering digunakan sebagai padanan dari istilah evaluasi, padahal secara kosepsional, penilaian bukan merupakan alih bahasa dari istilah evaluasi. Selanjutnya secara lebih jauh berikut ini diungkap beberapa pengertian evaluasi, antara lain :
1)      Stufflebeam et.al (1971), “evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”, evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan.
2)      Guba dan Lincoln (1985: 35), process for describing an evaluand and judging its merit and worth “ dan Gilbert Sax (1980: 18), Evaluation is a process through which a value judgment or decision is made from a variety of observations and from the background and training of the evaluator”. Dua rumusan tentang evaluasi tersebut menjelaskan, bahwa pada hakikatnya evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari pada sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka mengambil suatu keputusan.
3)      Nana Sudjana (dalam Sobry sutikno : 2013) menjelaskan bahwa evaluasi pada dasarnya memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.
Dari beberapa konsep tentang evaluasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai kualitas dari sesuatu yang diukur. Proses tersebut tentu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana sesuai dengan prosedur dan aturan.
2.    Fungsi evaluasi pembelajaran
 SECARA UMUM
Evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu mengukur kemajuan, menunjang penyusunan rencana dan memperbaiki atau menyempurnakan kembali.
 SECARA KHUSUS
1.      Aspek Psikologis
Dari segi psikologis, kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan disekolah dapat disoroti dari dua sisi, yaitu dari sisi peserta dan dari sisi pendidik.
·      Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas atau status dirinya masing-masing ditengah-tengah kelompok atau kelasnya.
·       Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kepastian atau ketetapan hati kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukan selama ini telah membawa hasil.


 2. Segi didaktik
       Bagi peserta didik, secara didaktik evaluasi pendidikan ( khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan prestasinya.
        Bagi pendidik, secara didaktik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi:
1)      Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha(prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.
2)      Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik ditengah-tengah kelompok.
3)       Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.
4)       Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.
5)       Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.
6)       Membantu guru dalam menempatkan peserta didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing.
3.      Segi Administrative
Secara Administrative, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi, yaitu
1.    Memberikan laporan tentang kemajuan peserta didik kepada pemerintah, pimpinan/kepala sekolah, guru/instruktur termasuk peserta didik itu sendiri.
 
    Dalam melakukan evaluasi, akan dapat disusun dan disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Laporan mengenai perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik itu pada umumnya tertuang dalam bentuk Buku Laporan Kemajuan Belajar Siswa, yang lebih dikenal dengan istilan Rapor (untuk peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah), atau Kartu Hasil Studi (KHS), bagi peserta didik di lembaga pendidikan tinggi, yang selanjutnya disampaikan kepada orang tua peserta didik tersebut pada setiap catur wulan atau akhir semester.

2.       Memberikan bahan-bahan keterangan data (Lulus atau Tidak)
 
            Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkapè dan akurat. Dalam hubungan ini, nilai-nilai hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, adalah merupakan data yang sangat penting untuk keperluan pengambilan keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan : apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan tamat belajar, dapat dinyatakan naik kelas, tinggal kelas, lulus ataukah tidak lulus, dan sebagainya.

3.      Memberikan gambaran ( IPA,IPS,AGAMA)
 Gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam proses pembelajaran tercermin antara lain dari hasil-hasil belajar peserta didik setelah dilakukannya evaluasi hasil belajar. Dari kegiatan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan untuk berbagai jenis mata pelajaran misalnya, akan dapat tergambar bahwa dalam mata pelajaran tertentu (misalnya Bahasa Arab, matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) pada umumnya kemampuan peserta didik masih sangat memprihatinkan. Sebaliknya, untuk mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Ilmu Pengetahuan Sosial misalnya, hasil belajar siswa pada umumnya sangat menggembirakan. Gambaran tentang kualitas hasil belajar peserta didik juga diperoleh berdasar data yang berupa Nilai Ebtanas Murni (NEM), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lain-lain.

4. Segi sosiologis
Untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalam arti dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan seluruh lapisan masyarakat dengan segala karakteristiknya.





4.      Jenis dan teknik evaluasi pembelajaran
3.1 Jenis evaluasi pembelajaran
Evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan incidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematis, dan berdasarkan atas tujuan yang jelas. Secara umum ada empat jenis evaluasi, yaitu:
1. Evaluasi Formatif , yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan program dalam satuan materi pokok pada suatu bidang studi tertentu.
2. Evaluasi Sumatif , yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar  peserta didik yang telah selesai mengikuti pembelajaran dalam satu caturwulan semester, atau akhir tahun.
3. Evaluasi Penempatan ( Placement ), yaitu penilaian tentang pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
4. Evaluasi Diagnostik , yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil  penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik baik merupakan kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam proses pembelajaran
4.2     Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu
1.      Teknik Non tes
Maksudnya adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik.
a.    Skala Bertingkat
Yang dimaksud dengan skala bertingkat atau rating scala adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan.
b.    Daftar Cocok
Maksudnya adalah suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan dijawab dengan membubuhkan tanda cocok (x) pada kolom yang telah disediakan.

c.      Wawancara
Maksudnya adalah semua proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, mendengar dengan telinganya sendiri suaranya.
d.     Daftar Angket
Maksudnya adalah bentuk tes yang berupa daftar pertanyaan yang diajukan pada responden, baik berupa keadaan diri, pengalaman, pengetahuan, sikap dn pendapatnya tentang sesuatu.
e.     Pengamatan (Observasi)
Maksudnya adalah teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti secara cermat dan sistematis. Dengan menggunakan alat indra dapat dilakukan pengamatan terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa disekolah. Oleh karena pengamatan ini bersifat langsung mengenai aspek-aspek pribadi siswa, maka pengamtan memiliki sifat kelebihan dari alat non tes lainnya. Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya
f.     Riwayat Hidup
 Ini adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi seseorang sebagai bahan informasi penelitian. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.
2.      Teknik Tes.
Tehnik tes adalah satu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau merangkai tugas yang harus dikerjakan oleh anak didik atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.
Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.
a.     Tes Subjektif
Tes ini sering pula diartikan sebagai tes essay yaitu tes hasil belajar yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang bersifat uraian dan atau penjelasan.
b.    Tes Objektif
Maksudnya adalah adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatsi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes essay.

5.      Alat evaluasi pembelajaran
Dalam hal ini alat evaluasi dapat dibedakan menjadi dua macam,yaitu:
a.    Evaluasi menggunakan tes buku
Tes baku adalah tes yang dapat dijadikan alat  pengukuran secara tepat dan tetap.Ketetapan suatu alat tes ini dimaksudkan,bahwa alat itu dapat dijadikan pengukur kemampuan sesuatu dengan hasil yang sah. Pelaksanaannya dapat dilakukan kapan saja untuk mengukur kemampuan sesuai dengan tujuan dengan hasil yang selalu dapat menggambarkan keadaan yang bersangkutan dalam mata pelajaran itu.Sebuah alat tes baku untuk mengukur kemampuan siswa SMA dalam mata pelajaran fisika misalnya.
b.    Evaluasi menggunaan tes tidak baku (Buatan guru)
Tes tidak baku adalah tes yang tidak diketahui kesahihanya dalam mengukur kemampuan tertentu secara tetap, dan tidak dipercaya ketetapannya. Kepentingannya terbatas yaitu untuk mengukur hasil belajar tertentu,dilakukan tehadap kelompok tertentu.






6.      Asseement Autenthik
Istilah “penilaian” dalam bahasa Indonesia dapat bersinonim dengan “evaluasi” (evaluation) dan kini juga popular istilah “asesmen” (assessment). Ada banyak definisi penilaian yang dirumuskan, namun pada umumnya menunjuk pada pengertian yang hampir sama. Menurut Linch (1996:2) penilaian adalah usaha yang sistematis untuk mengumpulkan informasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan. Brown (2004:3) yang sengaja memilih istilah tes dan mengartikannya sebagai cara pengukuran keterampilan, pengetahuan, atau penampilan seseorang dalam konteks yang sengaja ditentukan. Atau, penilaian diartikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik (PP No.19 Th 2005:3).
Pengertian dari penilaian autentik merupakan penilaian yang berusaha mengukur atau menunjukkan pengetahuan dan keterampilan siswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan itu pada kehidupan nyata. Berikut beberapa pengertian menurut tokoh-tokoh:
1.     Penilaian autentik mendorong siswa dan merupakan refleksi kegiatan pengajaran yang baik.
2.      Sedang pada pengertian autentik, sebagai bagian dari penilaian performance, autentik berarti realistis atau berhubungan dengan aplikasi pada kehidupan nyata. (Ott, 1994:6).
3.    Menurut Stiggins (via Mueller, 2008), penilaian autentik merupakan penilaian kinerja (perfomansi) yang meminta pembelajar untuk mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensi tertentu yang merupakan penerapan pengetahuan yang dikuasainya.
Jadi, penilaian autentik merupakan suatu bentuk tugas yang menghendaki pembelajar untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Penilaian autentik menekankan kemampuan pembelajar untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan yang telah diketahui pembelajar, melainkan kinerja secara nyata dari pengetahuan yang telah dikuasai.
Tujuan penilaian itu adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, penugasan kepada pembelajar untuk membaca berbagai teks aktual-realistik, menulis topik-topik tertentu sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap cetak. Dalam kegiatan itu, baik materi pembelajaran maupun penilaiannya terlihat atau bahkan memang alamiah. Jadi, penilaian model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing something, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan yang telah dikuasai secara teoretis.
Penilaian autentik lebih menuntut pembelajar mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan, dan strategi dengan mengkreasikan jawaban atau produk. Siswa tidak sekedar diminta merespon jawaban seperti dalam tes tradisional, melainkan dituntut untuk mampu mengkreasikan dan menghasilkan jawaban yang dilatarbelakangi oleh pengetahuan teoretis. Dalam penilaian kemampuan bersastra misalnya, pembelajar mampu menganalisis karakter tokoh dalam sebuah fiksi, mempertanggungjawabkan kinerjanya tersebut secara argumentatif, membuat resensi teks kesastraan, dan lain-lain. Berikut ini merupakan prosedur penilaian yang dapat digunakan untuk mengukur ketrampilan pemecahan masalah siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan:
1.      Siswa memberikan jawaban benar-salah tentang prosedur yang terbaik untuk memecahkan masalah dalam kelompok.
2.     Siswa menjawab rangkaian tes pilihan ganda tentang langkah-langkah selanjutnya untuk memecahkan masalah dalam kelompok.
3.     Siswa diminta membuat rangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan bagaimana cara memecahkan masalah secara kolaborasi, kemudian diminta untuk memberikan jawaban singkat terhadap pertanyaan itu.
4.   Siswa diberikan masalah baru, kemudian diminta untuk menulis essay yang berhubungan dengan bagaimana kelompok itu harus bekerja menyelesaikan masalah itu.
5.    Siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah tidak rutin.
Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh asesmen otentik adalah sebagai berikut.
a)      Berbasis kompetensi yaitu penilaian yang mampu memantau kompetensi siswa
b)      Individual, dapat secara langsung mengukur kemampuan individu
c)      Berpusat pada siswa, karena direncanakan, dilakukan dan dinilai oleh siswa sendiri, mengungkapkan seoptimal mungkin kelebihan individu dan juga kekurangannya
d)     Tak terstruktur dan open-ended, penyelesaian tugas-tugas otentik tidak bersifat uniformed dan klasikal. Juga kinerja yang dihasilkan tidak harus sama antar individu di suatu kelompok atau kelas.
e)      Terintegrasi dengan proses pembelajaran, sehingga siswa tidak selalu dalam situasi tes yang menegangkan
f)       Berkelanjutan, oleh karena itu penilaian harus secara langsung dilaksanakan pada saat proses pembelajaran.





BAHAN DISKUSI:
1.      Kita mengetahui bahwa pengertian antara evaluasi dan penilaian seringkali disamakan, padahal pengertian antara keduanya berbeda. Jelaskan perbedaan antara penilaian dan evaluasi?
2.      Sebut dan jelaskan manfaat dari evaluasi pembelajaran bagi siswa?
3.      Salah satu kelemahan dari teknik evaluasi daftar angket adalah kejujuran dari siswa dalam menisi angket. Seringkali siswa membuat jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Hal tersebut tentu akan membuat hasil dari analisa tentang sebarapa besar kemampuan siswa menjadi tidak valid. Lalu bagaimanakah cara guru agar siswa jujur dan memberikan jawaban sesuai dengan kenyataanya?
4.      Fungsi evaluasi secara umum ada 4 yaitu fungsi formatif, sumatif, diagnostik, dan penempatan. Lalu apakah fungsi evalausi pembelajaran bagi sekolah?




DAFTAR PUSTAKA
http://zakylubismy.blogspot.co.id/2011/11/pengertian-dan-tujuan-penilaian.html
 
;